Pendidikan yang Membangun Kebiasaan Buruk

Pendidikan yang Membangun Kebiasaan BurukHasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)

Kalau kita bertanya pada orang Indonesia yang pernah sekolah, soal di mana seharusnya setiap orang membuang sampah, maka bisa dipastikan bahwa setiap orang bisa menjawab bahwa tempat membuang sampah adalah tempat sampah. Sejak SD dalam soal ulangan kita selalu ditanya soal itu, dan itulah jawaban kita. Tapi kalau kita periksa, berapa banyak orang Indonesia yang membuang sampah dengan benar, memasukkannya ke tempat sampah, tentu hasilnya akan jauh berbeda. Mungkin kurang dari 50% orang Indonesia yang terampil membuang sampah pada tempatnya.

Lingkungan kita kotor, hampir di semua tempat. Saya berlibur ke Puncak, banyak pepohonan hijau, dan kali berair jernih. Tapi begitu saya turun ke kali, mencoba menikmati kesejukan air yang mengalir di antara bebatuan dan pepohonan, saya langsung kehilangan selera. Sampah plastik berserakan di mana-mana, hanyut di aliran sungai, atau sangkut di atas batu. Di bumi perkemahan, tempat orang-orang yang katanya cinta alam, pemandangannya sama. Sampah bertumpuk, mengotori alam yang sejuk, sangat merusak pemandangan. Di laut dan pantai pun suasananya tak jauh berbeda. Air laut yang bening dan tembus pandang, rusak keindahannya oleh sampah.

Berbagai fasilitas umum di kota besar bersampah. Semakin ramai tempat itu, semakin banyak tebaran sampah. Kendaraan umum pun begitu. Orang membuang sampah di mana saja, di tempat di mana sampah itu ia hasilkan.


Kenapa orang tidak bisa melakukan hal yang sangat sederhana itu? Mereka tahu apa yang harus dilakukan, tapi tidak melakukannya. Nilai-nilai yang diajarkan di sekolah tidak menjelma menjadi tindakan keseharian. Ajaran positif tidak menjadi kebiasaan dalam hidup sehari-hari.

Pendidikan kita memang hanya berpusat pada buku dan hafalan. Guru-guru berdiri di depan kelas, mengocehkan isi buku teks yang tebal, murid-murid mendengarkan. Mereka diharapkan mengingat apa yang mereka dengar. Nanti mereka akan diuji melalui ujian tertulis, apakah mereka ingat dengan ocehan guru di depan kelas. Murid yang baik adalah yang paling banyak mengingat. Ia akan menjawab pertanyaan dengan benar dan mendapat nilai tinggi.

Pendidikan kita kurang gerak, kurang eksplorasi. Hal-hal yang sudah tertera dalam buku teks untuk dilakukan sering dilewati begitu saja oleh guru. Murid-murid tidak diajak melakukan. Mereka hanya diminta untuk mengingat cerita tentang kegiatan itu dan hasilnya. Lagi-lagi tujuannya agar bisa menjawab saat ujian.

Membuang sampah adalah sebuah kebiasaan. Manusia melakukan kegiatan ini tanpa berpikir, tanpa sadar. Riset tentang perilaku manusia menunjukkan bahwa hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan akan tetap dilakukan oleh seseorang, meski ia sudah mengalami kerusakan otak yang membuatnya kehilangan ingatan sekali pun. Informasi tentang kebiasaan disimpan di bagian otak paling dalam, yang disebut basal ganglia. Di bagian itu disimpan informasi tentang tindakan yang dilakukan berulang-ulang, dalam waktu yang lama.

Mekanisme kebiasaan dibangun oleh otak manusia untuk menghemat energi. Berpikir untuk melakukan tindakan menguras energi otak. Untuk menghindari kelelahan, otak punya sistem yang segera mengalihkan fokus dari konsentrasi tinggi ke tindakan otomatis. Hal-hal yang dilakukan berulang akan direkam sebagai pola berulang, yang untuk melakukannya tidak lagi diperlukan konsentrasi berenergi tinggi.

Membuang sampah adalah tindakan yang kita lakukan lebih dari 10 kali sehari. Itu adalah tindakan rutin belaka. Otak kita mengidentifikasinya sebagai sebuah kebiasaan. Nah, di sekolah kita diajari secara verbal untuk membuang sampah pada tempatnya. Tapi sekolah pada umumnya fokus pada kegiatan mengingat omongan guru dan isi buku teks, tidak berfokus untuk membentuk perilaku. Sekolah tidak menyediakan sistem yang membuat murid-murid selalu membuang sampah di tempat sampah. Tempat sampah tidak disediakan secara memadai. Membuang sampah sembarangan tidak diberi label sebagai tindakan yang sangat buruk. Suasana di rumah pun begitu. Sebagian besar orang Indonesia tumbuh dengan membangun kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Mengubah kebiasaan artinya mengubah informasi yang tersimpan di ganglia basal. Prinsipnya, sangat sulit untuk mengubahnya. Kebiasaan dibentuk dari kegiatan berulang selama bertahun-tahun. Satu-satunya cara untuk mengubahnya adalah dengan mengganti suatu kebiasaan dengan kegiatan rutin yang lain. Orang yang kecanduan merokok, misalnya, harus mengganti rutinitas merokok itu dengan tindakan lain, misalnya mengunyah permen karet. Merokok adalah suatu bentuk kebiasaan yang tingkatnya bisa jadi sangat buruk, yaitu kecanduan.

Jadi, bagaimana cara mengubah kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan tadi? Tempat-tempat umum harus diubah menjadi sebuah sekolah besar yang diatur sedemikian rupa sehingga orang hanya membuang sampah di tempat sampah. Bila diperlukan, terapkan sistem imbalan dan hukuman yang ketat. Singapura melakukan hal ini di tahun 80-an, dan sistem hukuman keras bagi pembuang sampah sembarangan masih berlaku hingga sekarang. Sudah saatnya urusan disiplin membuang sampah ini dijadikan gerakan nasional.

Sekolah-sekolah pun harus menggeser fokus pendidikan, dari sekolah yang membentuk para penghafal buku teks, menjadi sekolah yang membangun kebiasaan-kebiasaan positif.


sumber: https://news.detik.com/kolom/d-4500909/pendidikan-yang-membangun-kebiasaan-buruk
Share:

Akhir Duel di Kelas: Guru Pembanting Diskors 3 Bulan, Siswa Dilindungi


Akhir Duel di Kelas: Guru Pembanting Diskors 3 Bulan, Siswa DilindungiFoto: Tangkapan Layar Video
Bojonegoro - Peristiwa seorang guru yang membanting siswanya di ruang kelas diakhiri dengan sanksi untuk guru. Tenaga honorer itu tidak boleh mengajar selama tiga bulan, sedangkan siswa yang dibanting dilindungi sampai lulus.

Selasa (9/4/2019) kemarin, sebuah video berdurasi 27 detik menjadi viral di jejaring media sosial internet. Isinya adalah rekaman peristiwa pembantingan di dalam kelas itu. Usut punya usut, peristiwa yang terekam itu terjadi di SMU Negeri 1 Tambakrejo, Bojonegoro, Jawa Timur, pada 29 Maret 2019.

"Kejadian itu dilakukan oleh oknum guru GTT (guru tidak tetap) yang mengajar bimbingan kesiswaan (BK)," ujar Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim di Bojonegoro Adi Prayitno kepada detikcom, Selasa (9/4).


Guru berinisial AS itu telah mengajar selama setahun. Konteks peristiwa itu adalah siswa yang sering tidak mengikuti kegiatan Pramuka, padahal kegiatan itu adalah ekstrakurikuler wajib. Selain itu, Adi menyebut, siswa itu berambut gondrong. Maka dinasihatilah siswa itu di depan kelas oleh si guru.

"Jadi anaknya itu dipanggil ke depan terus duduk di kursi guru. Ya memang anaknya rada dablek. Tapi yang namanya anak, ya, tetap anak," kata Adi.

Akhir Duel di Kelas: Guru Pembanting Diskors 3 Bulan, Siswa DilindungiFoto: Tangkapan layar video

Siswa mendebat guru yang menasihati itu, namun sikap siswa itu membuat guru emosi dan mencekik leher sang siswa. Siswa tidak terima, dan akhirnya terjadi duel berujung bantingan yang dilakukan guru terhadap siswa. Siswa-siswa lain yang melihat duel itu kemudian melerai.

Dikatakan Adi, peristiwa itu sudah diselesaikannya. Guru divonis bersalah oleh pihak institusi pendidikan yang menaunginya. Guru diberi sanksi 
skorsing, tidak boleh mengajar selama tiga bulan. Surat skorsing diproses. Guru itu akan diberi pembinaan supaya kepribadiannya berubah.

"Sudah kami selesaikan secara kedinasan. Sudah kami beri sanksi gurunya. Sudah saya skorsing ini. Apa pun yang dilakukan oleh guru tersebut salah sebagai seorang pendidik." kata Adi.

Sedangkan si siswa yang dibanting guru itu tidak mendapat sanksi. Siswa yang terlibat kejadian itu tetap dilindungi agar tetap bersekolah dan belajar hingga lulus.


"Untuk siswanya kami lindungi agar sekolah sampai lulus," kata Adi.

sumber: https://news.detik.com/berita/d-4503816/akhir-duel-di-kelas-guru-pembanting-diskors-3-bulan-siswa-dilindungi
Share:

Sanksi Skors 3 Bulan untuk Guru Pembanting Murid Dinilai Tidak Cukup

Sanksi Skors 3 Bulan untuk Guru Pembanting Murid Dinilai Tidak CukupTangkapan layar video viral yang memperlihatkan duel murid vs guru di Bojonegoro.

Guru berinisial AS yang membanting muridnya dikenai sanksi skors dilarang mengajar selama tiga bulan. Menurut pemerhati pendidikan, sanksi itu kurang berat.

Kejadian pembantingan siswa oleh guru honorer pengampu bimbingan kesiswaan (BK) terjadi di SMA Negeri I Tambakrejo, Bojonegoro, Jawa Timur. Menurut Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur di Bojonegoro, Adi Prayitno, siswa yang dibanting itu memang dablek alias sulit dinasihati.

Insiden berawal ketika murid dinasihati guru berinisial AS di depan ruang kelas. Siswa itu dipanggil karena sering tidak ikut kegiatan Pramuka dan berambut 'gondrong'. Namun, saat dinasihati, siswa laki-laki itu menjawab gurunya. Guru emosi dan mencekik leher siswa tersebut. Siswa tidak terima, terjadilah dorong-dorongan. Duel ini dipungkasi dengan bantingan guru terhadap siswa.


"Guru seharusnya lebih bijak dalam menghadapi masalah. Kalau guru emosional, bagaimana mungkin murid mengeluhkan masalahnya ke guru? Guru itu seharusnya juga menjadi tempat curhatnya murid-murid, maka dia perlu punya kematangan jiwa," kata pemerhati pendidikan, Darmaningtyas, berpendapat, Rabu (10/4/2019).

Adapun soal sikap siswa yang dablek, nakal, atau bengal, itu tidak lantas menjadi pembenaran untuk guru melakukan kekerasan terhadap siswa, misalnya mencekik. Perlu ditelisik latar belakang bagaimana anak itu menjadi agresif, dan upaya ini hanya bisa berhasil bila dilakukan lewat dialog tanpa emosi, tanpa cekikan, dan tanpa bantingan. Lewat penelitiannya, Darmaningtyas mendapati banyak siswa-siswa agresif berlatar belakang 'yatim-piatu semu', yakni mereka yang secara formal punya orang tua namun hidup bukan dengan orang tua kandung. Atau bisa pula siswa-siswa itu berasal dari lingkungan yang keras, atau keluarga yang sudah bercerai dan tak lengkap lagi.

Penulis buku Pendidikan Rusak-rusakan ini percaya, murid dablek bisa ditangani dengan kelembutan. "Tentu anak itu merasa tersinggung bila dinasihati di depan siswa-siswa lain di dalam kelas. Maka guru perlu bijaksana. Kalau menangani satu siswa, jangan di depan siswa-siswa lain. Dia harus dipanggil ke ruang BP, diajak bicara, dicari tahu apa masalahnya. Kalau dinasihati di depan murid-murid yang lain tentu saja anak itu malu," kata Darmaningtyas.

Dia merujuk pada informasi bahwa siswa di Bojonegoro itu dinasihati di depan kelas sebelum akhirnya terjadi insiden bantingan. Menurut dia, tak ada pembenaran penggunaan cara-cara kekerasan untuk menangani siswa. Di negara-negara maju, memegang fisik siswa bahkan tidak boleh dilakukan karena dianggap bagian dari kekerasan. Kini, kultur pendidikan sudah menjauh dari kekerasan. Guru-guru juga perlu menyesuaikan diri dengan zaman dan tak bisa lagi menerapkan cara-cara lama dalam mengajar siswa.

Menurutnya, pembantingan itu sudah menunjukkan bahwa guru tidak bisa mengendalikan emosi dalam menunaikan kewajibannya. Maka sanksi tiga bulan tidak mengajar dirasanya tidak cukup untuk membayar kesalahan tersebut.

"Skorsing tiga bulan tidak cukup. Menurut saya, mending dipecat karena dia tidak pantas jadi guru," kata Darmaningtyas.


Segitiga Kasih Sayang Guru-Murid

Relasi antara guru dan murid digambarkan berbentuk segitiga. Relasi pendidikan ini terdiri atas guru-murid-pengetahuan. Dua titik dari guru dan murid terhubung ke atas, yakni ke titik pengetahuan. Dua titik dari guru dan murid terhubung secara mendatar.

"Relasi ini harusnya relasi afektif (berdasarkan kasih sayang). Perlu ditelisik, apakah anak tidak puas dengan relasi ini, " kata pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jimmy Philip Paat, menanggapi peristiwa yang viral lewat media sosial internet itu.

Master sosiologi pendidikan ini menekankan pentingnya aspek saling percaya yang mendasari relasi guru dan murid. Dia menduga ada rasa saling tidak percaya antara guru dan murid yang memicu kekerasan di antara keduanya. Bagaimanapun, cara-cara kekerasan tidak boleh dilakukan oleh siapapun, termasuk oleh guru.

"Cara kekerasan saya sebut primitif, tidak dibenarkan. Bagaimana terjadi relasi yang baik bila ada kekerasan? Relasi guru dan murid ini harus afektif," kata Jimmy.

Dia percaya anak nakal bisa ditertibkan tanpa kekerasan, syaratnya adalah relasi antara guru dan murid dilandasi rasa kasih sayang (afektif). Indikator keberhasilan relasi guru-murid adalah munculnya rasa saling percaya. Bila siswa sudah sering mencurahkan isi hatinya atau menceritakan masalahnya ke guru secara sukarela, itu tanda siswa sudah punya kepercayaan ke gurunya.

"Kasus seperti ini terjadi karena relasi pedagogis tidak terbangun," kata Jimmy.


sumber: https://news.detik.com/berita/d-4503843/sanksi-skors-3-bulan-untuk-guru-pembanting-murid-dinilai-tidak-cukup
Share:

Kasus Guru Jadi Korban Kekerasan Juga Terjadi di Luar Negeri

Kasus Guru Jadi Korban Kekerasan Juga Terjadi di Luar NegeriFoto ilustrasi kegiatan sekolah. (Rinto Heksantoro/detikcom)

Relasi guru dan murid menjadi pikiran pemerhati pendidikan. Di Indonesia, acapkali terjadi kekerasan oleh guru terhadap murid, bahkan sebaliknya, murid berani melawan guru. Kekerasan oleh murid atau pihak murid terhadap guru juga terjadi di negara-negara maju. Ini harus dihindari.

Pada Oktober 2017, muncul video viral dari Negeri Sakura yang bikin marah khalayak internasional saat itu. Video ini beredar via jejaring kelompok percakapan internet, aplikasi LINE, sebagaimana dilaporkan Huffington Post Japan.

Dilansir AsiaOne dan Japan Today, video itu merekam peristiwa yang terjadi di sekolah Fukuoka, Jepang. Seorang guru usia 23 tahun memperingatkan satu murid pria usia 16 tahun untuk berhenti bermain ponsel saat di kelas. Namun murid tersebut malah melawan. Murid itu mendekati guru dan menendang betisnya, tendangan dilakukan murid itu lebih dari dua kali diikuti pukulan keras ke punggung. Murid itu bahkan menarik kerah guru.

Terdengar suara tawa siswa-siswi lain di dalam kelas itu. Menurut laporan perkembangan selanjutnya, siswa itu ditangkap polisi prefektur Fukuoka pada 29 September 2017, atau sebelum video ini diberitakan. Guru itu menderita luka ringan termasuk memar.

Menurut hukum Jepang, guru-guru tidak boleh menyakiti murid secara fisik dalam kondisi apapun. Ini sudah diatur sejak Jepang punya Undang-Undang Pendidikan Sekolah tahun 1947, sebagaimana dilansir Japan Times.

Di Amerika Serikat (AS), anak usia 12 tahun menodong kepala gurunya dengan pistol. Dilansir BBC, peristiwa ini terjadi di sebuah SMP North Scott, Eldridge, kawasan dekat Iowa pada 31 Agustus 2018.

Pelatuk pistol itu telah ditarik, peluru siap meluncur ke wajah si guru. Namun guru itu berhasil membujuknya untuk menurunkan senjata. Beruntung, tak ada yang terluka akibat peristiwa ini.

Anak itu didakwa melakukan percobaan pembunuhan, membawa senjata ke sekolah, dan melakukan penyerangan menggunakan senjata berbahaya. Dia kemudian ditangkap dan ditempatkan di pusat tahanan anak.

Di Prancis, guru SD di kota Albi tewas ditusuk oleh ibu dari muridnya pada 4 Juli 2014. Peristiwa mengerikan itu terjadi di depan kelas, disaksikan oleh murid-murid. Guru itu bernama Fabienne Terral-Calmes (34) yang bekerja di sekolah Edouard Herriot.

Peristiwa berlangsung saat pelaku membawa anaknya yang berusia 5 hingga 6 tahun. Pelaku kemudian berteriak, "Saya bukan pencuri!" Kemudian pelaku menusukkan pisau panjang ke guru nahas itu.

Pelaku yang berusia 47 tahun ditangkap polisi di rumahnya. Pelaku menderita gangguan mental serius. Presiden Prancis saat itu, Francois Hollande memerintahkan penanganan khusus untuk anak-anak dan staf sekolah yang menjadi saksi kejadian keji itu.

Ternyata, berdasarkan institut statistik nasional Prancis, lebih dari 10 tenaga pengajar di Prancis melaporkan mengalami kekerasan atau ancaman saat bekerja, angkanya dua kali lipat ketimbang profesi selain guru.

Di Inggris, seorang guru perempuan di Corpus Christi bernama Ann Maguire (61) ditusuk hingga tewas oleh muridnya bernama Will Cornick (15) pada April 2014. Cornick dihukum seumur hidup pada 2014 setelah dia mengakui membunuh Maguire, guru yang mengampu mata pelajaran Bahasa Spanyol selama 40 tahun.

Di Indonesia, baru saja terjadi peristiwa di Bojonegoro. Seorang siswa tidak terima saat dinasihati gurunya, karena si guru mencekik lehernya. Si siswa mengadakan perlawanan, duel terjadi, dan siswa dibanting oleh guru.

Sebelumnya, terjadi peristiwa di SMP PGRI Wringinanom Gresik Jawa Timur. Terlihat di video viral pada Februari lalu, seorang murid tiba-tiba memegang kepala gurunya. Kemudian mendorong si guru dan mencengkeram kerah bajunya seakan-akan hendak memukul si guru sambil memaki. Guru itu bernama Nur Kalim mengampu mata pelajaran IPS di Kelas III SMP itu. Siswa itu akhirnya meminta maaf.

Februari 2018, guru kesenian SMAN I Torjun, Sampang, Achmad Budi Cahyono meninggal akibat penganiayaan yang dilakukan oleh salah satu anak didiknya sendiri. Awalnya pelaku inisial MH ramai dan mengganggu teman lainnya dan mencoret-coret lukisan teman lainnya. Korban mengingatkan siswa nakal itu, tapi tak dihiraukan, malah menjadi-jadi mengganggu teman lainnya. Korban mendatangi dan mencoret pipi pelaku dengan cat lukis. Tapi siswa itu tiddak terima dan menganiaya sang guru.

Setelah peristiwa itu, Budi dipersilahkan pulang oleh kepala sekolah. Sampai di rumah, korban langsung tidur, karena mengeluh sakit pada lehernya. Karena mengeluh itu, korban akhirnya dilarikan ke RSU dr Soetomo Surabaya oleh keluarganya. Sekitar pukul 21.40 wib, kepala sekolah SMAN 1 Torjun menyampaikan kabar duka, bahwa guru seni rupa itu meninggal dunia.


sumber: https://news.detik.com/internasional/d-4503888/kasus-guru-jadi-korban-kekerasan-juga-terjadi-di-luar-negeri
Share:

Banyak Penduduk Pendidikan Rendah, RI Sulit Genjot Sektor Jasa

Ilustrasi/Foto: Grandyos ZafnaIlustrasi/Foto: Grandyos Zafna

Kualitas pendidikan penduduk Indonesia masih terbilang rendah. Hal ini disebutkan dengan masih banyaknya penduduk Indonesia yang tingkat pendidikannya lulusan SD.

"Penduduk kita 50% masih berpendidikan SD. Masih SMP ke bawah," kata Direktur Program INDEF Berly Martawardaya dalam diskusi ILUNI UI di UI Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (11/4/2019).

Dengan kondisi tersebut, langkah Indonesia untuk memperluas sektor jasa bagi motor ekonominya terbilang sulit. Pasalnya, dalam sektor tersebut dibutuhkan keahlian khusus.

"Kalau mau kerja di bank misalnya, SD nggak akan lolos. Satpam saja minimal SMA," tambah Berly.

Lalu, ia menjelaskan dalam menghadapi kondisi di bidang pendidikan saat ini Indonesia perlu mengedepankan industri manufaktur dalam 5-10 tahun ke depan.

"Kalau pabrik SD bisa masuk. Bisa itu menciptakan lapangan kerja," pungkasnya.


sumber: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4506246/banyak-penduduk-pendidikan-rendah-ri-sulit-genjot-sektor-jasa
Share:

Ini Sosok Inspiratif Guru Terbaik di Dunia yang Dapat Hadiah Rp 13 M

Foto: Global Teacher Prize
Foto: Global Teacher Prize
Foto: Global Teacher Prize



Seorang guru memenangkan Teacher Global Price dengan hadiah sekitar Rp 13 miliaran. Tentu saja guru tersebut bukan guru sembarangan. Ia punya kisah inspiratif yang bisa jadi teladan orang lain atau sesama pengajar. Intip cerita dan sosok guru yang berhasil mengalahkan 10,000 guru dari 179 negara tersebut.

Pemenang guru terbaik di dunia 2019 adalah Peter Tabichi dari Kenya. Pria tersebut mengajarkan ilmu sains di sebuah desa kecil di mana 95% warganya hidup dalam kemiskinan. Kegigihan pria ini dalam memberi ilmu kepada murid-muridnya memang luar biasa. Demi para siswa bisa mendapatkan pendidikan meski tidak punya banyak uang, ia menyumbangkan 80% penghasilan untuk kebutuhan akademis mereka.

Ini Sosok Inspiratif Guru Terbaik di Dunia yang Dapat Hadiah Rp 13 MFoto: YouTube
Kelas Peter Tabichi pun selalu penuh bahkan terlalu ramai. Bukan hanya karena Peter adalah guru favorit namun karena di sana tidak banyak sekolah. Ia pun kadang harus mengajar 80 siswa sekaligus dalam satu kelas.

Ini Sosok Inspiratif Guru Terbaik di Dunia yang Dapat Hadiah Rp 13 MFoto: YouTube
Kebanyakan murid Peter datang dari keluarga tidak mampu. Untuk pergi ke sekolah pun, mereka harus berjalan kaki hingga 4 mil. Karena itu, Peter sering mendukung mereka dengan memberikan buku dan seragam meski harus memakai gajinya sendiri. "Sekolah itu adalah di daerah terpencil. Kebanyakan murid datang dari keluarga miskin, bahkan untuk sarapan saja sulit," ungkapnya dilansir Bright Side.

Ini Sosok Inspiratif Guru Terbaik di Dunia yang Dapat Hadiah Rp 13 MFoto: YouTube
Meski sejumlah murid punya keterbatasan biaya, hal itu tidak menghalangi Peter dan para siswa. Bahkan beberapa murid Peter bisa mengikuti kompetisi sains tingkat nasional dan internasional. Banyak pula siswanya yang berhasil diterima di universitas berkat jasa Peter yang memberi pendidikan.

Ini Sosok Inspiratif Guru Terbaik di Dunia yang Dapat Hadiah Rp 13 MFoto: YouTube
Selain berusaha keras untuk memberi pengajaran, Peter juga bertekad untuk mengubah sudut pandang warga sekitarnya mengenai pendidikan untuk wanita. Di Kenya, banyak anak perempuan yang dinikahkan dari pada dikirim ke sekolah. "Sebagai guru yang bekerja di lini paling depan aku melihat potensi pada anak-anak muda, rasa penasaran mereka, talenta, kepintaran, dan kepercayaan mereka," ungkapnya.

"Sekarang sedang pagi di Afrika. Langit terlihat jernih. Hari masih pagi dan ada halaman kosong menunggu untuk ditulis. Ini adalah waktunya Afrika (bersinar). Anak muda Afrika tidak akan tertahan lagi karena ekspektasi rendah. Afrika akan memproduksi peneliti, insinyur, dan pengusaha yang namanya akan terkenal di semua sudut di dunia," kata Peter.

sumber: https://wolipop.detik.com/worklife/d-4515838/ini-sosok-inspiratif-guru-terbaik-di-dunia-yang-dapat-hadiah-rp-13-m



Share:

Siswa SD Jalani USBN Mulai Hari Ini

Siswa SD Jalani USBN Mulai Hari IniFoto ilustrasi (M Luthfi Andika/detikcom)

Siswa SD sederajat akan menjalani Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) mulai hari ini. USBN akan digelar dalam tiga hari berturut-turut.

Sebagaimana diinformasikan akun Instagram Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, diakses detikcom pada Senin (22/4/2019), ada tiga mata pelajaran yang diujikan untuk siswa SD, MI, SDTK, dan SPK.

"#SahabatDikbud, Untuk jenjang SD/MI tidak ada UN ya, melainkan USBN," demikian tulis Kemendikbud RI.

Hari ini, mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indoneisa. Soal ujian terdiri dari pilihan ganda 40 soal dan 5 soal uraian.

Pada Selasa (23/4) besok, mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika. Soalnya terdiri dari 30 soal pilihan ganda dan 5 soal uraian.

Pada Rabu (24/4) lusa, mata pelajaran yang diujikan adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Isinya adalah 35 soal pilihan ganda dan 5 soal uraian. Semua mata pelajaran punya waktu pengerjaan 120 menit alias 2 jam.

USBN susulan akan digelar pada 26 hingga 30 April, berturut-turut mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA.


sumber: https://news.detik.com/berita/d-4519309/siswa-sd-jalani-usbn-mulai-hari-ini
Share:

Mendikbud Minta Tambah Anggaran 'Permak' Pendidikan SMK Rp 27 T

Foto: Isal MawardiFoto: Isal Mawardi

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengaku, telah mengajukan tambahan anggaran sebesar Rp 27 triliun untuk revitalisasi pendidikan tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK).

Muhadjir mengatakan, usulan tambahan anggaran juga ditujukan agar lulusan SMK bisa langsung terserap oleh dunia industri. Tambahan ini diusulkan masuk pada APBN 2020.

"Saya ajukan penambahan anggaran untuk revitalisasi SMK dan itu sudah ada payung hukumnya, yaitu Inpres 9/2016 tentang revitalisasi SMK," kata Muhadjir di komplek Istana, Jakarta, Senin (22/4/2019).

Muhadjir menjelaskan, usulan tambahan anggaran ini bersifat khusus dan tidak lagi tercampur dengan anggaran yang lainnya.

Muhadjir bilang, tahun-tahun sebelumnya anggaran revitalisasi pendidikan SMK sudah ada namun tidak dilakukan secara khusus.

"Tapi sekarang lebih fokus, tapi sekarang saya minta (khusus) untuk revitalisasi, sesuai arahan presiden," jelas dia.

Dengan anggaran khusus revitalisasi ini, Muhadjir berharap dapat menekan tingkat pengangguran terbuka (TPT) khususnya lulusan SMK yang persentasenya paling tinggi.

"Masalahnya adalah lapangan kerja yang tidak ada. Anak-anak ini sudah dilatih dengan keterampilan khusus, tapi kalau keterampilan ini tidak tersedia lapangan kerja ya bagaimana?," kata Muhadjir.

Oleh karena itu, Muhadjir mengusulkan tambahan anggaran khusus revitalisasi pendidikan SMK pada APBN Tahun 2020 sebesar Rp 27 triliun.

"Kami ajukan termasuk untuk penguatan pendidikan karakter Rp27 triliun tambahan. Tadinya tidak ada," ungkap dia.


sumber: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4520641/mendikbud-minta-tambah-anggaran-permak-pendidikan-smk-rp-27-t
Share:

Wali Kota Bogor Bakal Masukkan Materi Antikorupsi ke Pelajaran SD-SMP

Wali Kota Bogor Bakal Masukkan Materi Antikorupsi ke Pelajaran SD-SMPWali Kota Bima Arya (Grandyos Zafna/detikcom)

Wali Kota Bogor Bima Arya dan jajarannya mendatangi KPK dan menggelar pertemuan dengan Pimpinan KPK. Usai pertemuan, Bima menyatakan pihaknya menyepakati sejumlah hal dengan KPK.

Salah satunya, kata Bima ialah pihaknya bakal mewajibkan SD-SMP di Kota Bogor untuk memasukkan materi antikorupsi. Dia menyatakan dirinya bakal mengeluarkan peraturan wali kota untuk menindaklanjuti hal itu.

"Pertama kami segera mewajibkan SD-SMP di Kota Bogor untuk memasukkan mata pelajaran antikorupsi. Minggu depan saya akan keluarkan Perwali-nya," ucap Bima di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (25/4/2019).

Bima juga mengatakan ada sejumlah masukan dari Pimpinan KPK untuk pencegahan korupsi di Pemkot Bogor. Dia juga mengatakan telah menyampaikan sejumlah kendala di daerah yang butuh perhatian dari KPK.

Dia menyebut pertemuan dengan pimpinan KPK ini untuk membuat pemerintahannya bersih. Bima mengaku tak ingin peristiwa operasi tangkap tangan (OTT) KPK terjadi di Bogor.

"Kita tidak ingin di Kota Bogor ada peristiwa yang sama dengan daerah lain, apalagi OTT," ucap Bima.

Selanjutnya, Bima juga mengatakan pihaknya membahas penyelamatan aset daerah dan peningkatan pendapatan daerah. Salah satu yang menjadi masukan dari KPK, kata Bima, adalah penggunaan teknologi untuk optimalisasi pendapatan daerah.

"Jadi bagaimana wajib pajak itu diterapkan sistem tapping box. Itu sudah kita terapkan, tetapi kita ingin lebih maju lagi. Artinya nanti setiap rupiah yang masuk, masuk ke pemerintah kota, kalau sekarang kan belum otomatis, jadi teknologi untuk maksimalkan pajak," jelasnya.

Bima kemudian mengatakan dirinya menargetkan penerimaan asli daerah mencapai Rp 1 triliun pada 2020. Peningkatan PAD, kata Bima, ditujukan agar ASN bisa ditingkatkan kesejahteraannya sehingga mengurangi potensi korupsi.

"Tahun depan kita targetnya Rp 1 triliun. Tapi kita ingin lebih progresif lagi. Kita sepakat ingin meningkatkan PAD untuk menyejahterakan ASN untuk mencegah korupsi," ucap Bima.


sumber: https://news.detik.com/berita/d-4526445/wali-kota-bogor-bakal-masukkan-materi-antikorupsi-ke-pelajaran-sd-smp
Share:

Hardiknas 2019: Mengukuhkan Kembali Tradisi Literasi

Hardiknas 2019: Mengukuhkan Kembali Tradisi LiterasiFoto: Robi Setiawan/detikcom


Peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2019 ini mengingatkan kembali pentingnya hakikat pendidikan di Indonesia yang selaras dengan bunyi konstitusi yang merupakan salah satu tujuan bernegara, yakni "mencerdaskan kehidupan bangsa". Konstitusi pula mewajibkan politik anggaran untuk pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari alokasi anggaran belanja negara. Di poin ini, tampak begitu kuat konstitusi memberi perhatian terhadap sektor pendidikan.
Seiring perkembangan zaman yang begitu cepat, sektor pendidikan pun tak luput dari tantangan yang mengalami perubahan masif. Fenomena disrupsi di dunia pendidikan juga tak bisa dielakkan. Setidaknya, yang kasat mata dapat dilihat, pembelajaran melalui sistem dalam jaringan (daring/online) kini telah menjadi tuntutan penyelenggara pendidikan.
Tenaga pendidik baik guru maupun dosen kini juga telah memiliki pesaing yang tidak bisa diabaikan, apalagi kalau bukan keberadaan mesin pencari seperti Google dan sejenisnya. Tenaga pengajar dituntut kian profesional dan tentunya harus makin adaptif dengan perkembangan digital yang telah menjadi sunnatullah ini.

Melimpahnya informasi yang tersebar melalui jaringan internet, baik melalui media konvensional maupun media sosial termasuk jejaring komunikasi berbasis internet seperti WhatsApp, telah membawa tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan di Indonesia. Sektor pendidikan harus mampu mengharmonikan sisi positif dari digital, serta sistem pembelajaran di sisi yang lainnya.
Namun, di lain sisi digital juga memberi ekses negatif. Penyebaran berita bohong, informasi palsu, dan fitnah melalui medium digital telah mengubah cara pandang manusia terhadap sesamanya. Kebenaran diyakini menurut persepsi diri masing-masing dengan mengabaikan basis fakta dan realitas. Situasi ini juga lazim disebut sebagai era post-truth.
Era post-truth tak luput juga melanda di Indonesia. Ruang publik, khususnya di media sosial termasuk media jejaring berbasis daring seperti WhatsApp menjadi ajang saling fitnah dan menjadi ruang persemaian penyebaran informasi palsu dan dusta. Naifnya, informasi palsu dan dusta tersebut dianggap sebagai sebuah kebenaran.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan spirit para pendiri bangsa (the founding fathers) melalui rumusan konstitusional sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.
Literasi Kunci Pendidikan
Pendidikan dan literasi ibarat koin mata uang, keduanya tak bisa dipisahkan. Membaca dan menulis merupakan aktivitas yang terinternalisasi di dalam aktivitas pendidikan. Aktivitas tersebut berujung pada pencapaian pengetahuan yang melahirkan peradaban di tengah masyarakat.
Jika membuka sejumlah hasil riset yang dilakukan sejumlah lembaga, posisi literasi di Indonesia masih tergolong rendah dibanding negara-negara lainnya. Seperti temuan dari Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2015 yang menempatkan Indonesia berada di posisi 62 dari 70 negara yang menjadi objek survei.
Begitu juga temuan dari Central Connecticut State University (CCSU) yang dirilis pada 2016 menempatkan peringkat literasi Indonesia berada di angka 60 dari 61 negara yang diriset oleh lembaga ini.
Meski, kabar menggembirakan muncul dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang baru saja merilis, kemampuan literasi anak didik di tingkat sekolah menengah atas membaik di angka 61%. Riset dilakukan terhadap 6.500 siswa Kelas X yang tersebar di 34 provinsi seluruh Indonesia.
Berbagai temuan berbagai lembaga tersebut harus disikapi dengan langkah-langkah konstruktif, khususnya oleh pemerintah. Pemerintah diharapkan menerbitkan kebijakan yang mendasar untuk memantik minat baca anak didik sekolah, mahasiswa, serta masyarakat luas. Seperti ketersediaan akses bagi masyarakat untuk membaca buku, khususnya bagi daerah-daerah terdepan dan wilayah pelosok di Indonesia.

Program pengiriman buku gratis melalui PT Pos Indonesia setiap tengah bulan perlu disebarluaskan lebih masif ke publik. Gagasan pembebasan pajak buku yang dimaksudkan untuk memudahkan akses kepemilikan buku bagi masyarakat juga patut dipikirkan jika memang memiliki korelasi kuat antara minat literasi dan kepemilikan buku oleh masyarakat.
Selain terobosan tersebut, gerakan kultural untuk meningkatkan minat baca juga harus muncul dari lembaga pendidikan baik sekolah maupun perguruan tinggi. Tak kalah penting, tenaga pendidik juga harus meningkatkan kemampuan dirinya dengan senantiasa menambah asupan pengetahuan dan wawasan dengan membaca buku dan sumber referensi lainnya.
Terkait hal tersebut, ketersediaan regulasi seperti UU No 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan diharapkan menjadi pengungkit minat baca dan tulis masyarakat Indonesia. Karena pendidikan dan literasi merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan.
Khitah Indonesia
Aktivitas membaca dan menulis pada akhirnya melahirkan pengetahuan yang membentuk peradaban tinggi. Simak saja, tradisi literasi begitu kuat yang ditampilkan oleh para pendiri bangsa kita. Karena memang, faktanya, khitah Indonesia tak lain adalah kukuhnya tradisi literasi.
Tradisi literasi yang kuat oleh para pendiri bangsa secara konkret melahirkan kemerdekaan Republik Indonesia. Gerakan Boedi Oetomo, gerakan Ki Hadjar Dewantara, perjuangan RA Kartini, gerakan para ulama Nusantara, serta gerakan para pejuang kemerdekaan lainnya saat kemerdekaan tak bisa dilepaskan dari kuatnya tradisi literasi.
Kontekstualisasi perjuangan para pendiri bangsa cukup tepat di tengah derasnya arus informasi yang sangat masif menggempur layar kaca ponsel masyarakat Indonesia saat ini. Kesigapan masyarakat untuk melakukan upaya chek and recheck atas setiap informasi harus selalu dikedepankan. Gerakan "saring sebelum sharing" harus muncul dalam diri saat mendapatkan setiap informasi yang masuk.

Garis perjuangan para pendiri bangsa menjadi tauladan bagi generasi penerus dengan senantiasa mengukuhkan bangsa yang gemar literasi untuk mewujudkan cita-cita pendiri bangsa yang tertuang dalam konstitusi, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa yang ujungnya melahirkan kesejahteraan umum. Selamat Hari Pendidikan Nasional.


Share:

Kegilaan Politik di Ruang Kelas

Kegilaan Politik di Ruang KelasHasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)


Awal tahun ini anak saya ikut pesantren kilat yang merupakan kegiatan wajib di sekolahnya. Pulang dari acara itu ia bercerita bahwa ada pembina dalam acara itu yang mengajak anak-anak untuk meneriakkan yel-yel ganti presiden. Dua anak saya yang lain yang belajar di sekolah yang berbeda menceritakan hal senada, yaitu perilaku guru mereka yang sarat muatan politik. "Di kelas, dalam pelajaran, dia sering ngomong politik, menunjukkan sikap tidak suka pada Presiden," lapor mereka.

Ini bukan suatu kebetulan, bukan khas sekolah anak-anak saya. Kasus seperti ini cukup banyak. Banyak guru yang secara terang-terangan mengkampanyekan preferensi politik mereka di ruang kelas. Tidak sedikit dari mereka yang menyebarkan informasi palsu sebagai pelengkap preferensi politik tadi.

Yang lebih parah masih ada, yaitu pengasuh pondok pesantren yang memberi instruksi kepada para santri untuk memilih pasangan calon tertentu. Pesantren, sama seperti sekolah, adalah lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan seharusnya steril dari kegiatan politik praktis.


Bagi saya ini masalah yang sangat serius. Entah bagi pemerintah. Ini bukan soal kita mendukung siapa dalam pemilihan presiden. Sama sekali bukan soal kita mendukung atau anti pada petahana. Ini soal kepatutan. Pendidikan seharusnya mengajarkan hal-hal yang patut. Juga memberikan panduan untuk membedakan mana yang patut dan yang tidak. Guru-guru dan pengelola lembaga pendidikan yang saya sebut tadi sudah menunjukkan sikap tidak patut.

Politik praktis di ruang kelas jelas tidak patut. Bagi guru yang berstatus ASN tindakan itu sekaligus merupakan pelanggaran peraturan. Guru yang melanggar peraturan, disaksikan oleh murid-muridnya, jelas merupakan hal yang tidak boleh ada di sekolah. Tapi hal-hal semacam ini terjadi dalam skala yang luas.

Parahnya, banyak dari guru tersebut yang tidak menganggap tindakan mereka itu salah. Mereka merasa benar. Bahkan mereka merasa itu adalah kewajiban. Itu adalah bagian dari perjuangan mereka. Mereka pun mengajarkan hal itu kepada murid-murid, bahwa ini perjuangan, kebenaran yang harus ditegakkan. Guru yang salah, mengajarkan kesalahan kepada murid-murid.

Apa yang seharusnya diajarkan para guru soal politik? Mereka seharusnya mengajarkan bagaimana sistem politik bekerja. Di bagian itu sebenarnya para guru bisa sangat kritis. Banyak ketimpangan yang terjadi dalam sistem politik kita, termasuk yang dilakukan oleh penguasa. Hal-hal semacam itu bisa disampaikan, tapi dalam bingkai pendidikan politik, yaitu untuk memberi pemahaman tentang sistem politik, berikut keunggulan dan kelemahannya.

Hal lain, sangat penting pula untuk mengajarkan bahwa berbeda dalam pilihan politik itu boleh dan wajar. Ajarkanlah untuk berbeda pilihan secara sehat. Ajarkan pula cara memahami dasar pemikiran orang saat membuat pilihan, sehingga ia sampai pada pilihan yang berbeda. Lalu ajarkan untuk menghormati perbedaan itu. Inilah yang seharusnya terjadi di ruang kelas.

Politik haruslah dipandang sebagai bagian penting dalam kehidupan bernegara. Ada hal yang sangat penting di situ, yaitu tujuannya untuk membangun dan menjalankan negara. Politik seharusnya tidak membuat warga negara berpecah belah. Prinsipnya adalah dengan menghormati perbedaan. Sejak awal didirikan, negara ini memang sudah terdiri dari berbagai komponen yang berbeda-beda.

Bagaimana pemerintah bersikap terhadap soal ini? Saya khawatir ini dianggap soal kecil saja. Sama seperti berbagai ketidakpatutan lain yang dipraktikkan oleh para guru, dan dianggap kecil oleh pemerintah. Lama-lama sekolah-sekolah kita dipenuhi oleh tumpukan ketidakpatutan.

Menurut saya, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan maupun Dinas Pendidikan perlu secara khusus untuk mendinginkan suasana, lalu mendidik ulang para guru soal makna politik. Mereka harus diberi pemahaman tentang bagaimana seharusnya politik disikapi. Jangan biarkan situasi ini berlanjut dan berkembang menjadi lebih parah.


sumber: https://news.detik.com/kolom/d-4537483/kegilaan-politik-di-ruang-kelas
Share:

Arsip Blog

Recent Posts